Minggu, 17 Desember 2017

Syiah Kuala, Pengarang Tafsir Pertama di Asia Tenggara

Banda Aceh, Santri Putri Hits 

Syekh Abdurrauf Singkil (1024 H/1615 M -1105 H/1693 M) merupakan ulama pertamayang menulis tafsir Al-Qur’an lengkap di kawasan Asia Tenggara. Keluarganya berasal dari Persia atau Arabia yang datang dan menetap di Singkil, Aceh, pada akhir abad ke-13. Ia merupakan anak dari Ali Fansuri yang merupakan kakak kandung Hamzah Fansuri.

Syiah Kuala, Pengarang Tafsir Pertama di Asia Tenggara (Sumber Gambar : Nu Online)
Syiah Kuala, Pengarang Tafsir Pertama di Asia Tenggara (Sumber Gambar : Nu Online)

Syiah Kuala, Pengarang Tafsir Pertama di Asia Tenggara

Menurut Wakil Rektor Misri Al-Muchisn Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry ia dijuluki masyarakat Aceh dengan Tengku Syiah di Kuala. Syiah yang dimaksud adalah syekh atau ulama dalam lidah orang Aceh. 

Karyanya yang paling terkenal adalah kitab tafsir Turjuman Al-Mustafid. Selain itu dia menulis karya lain. Diperkirakan ada sekitar 27 karya. Sementara yang lain ada yang menyebutkan 32. Pendapat yang terakhir adalah karena ada sebagian karya yang diduga dua karya dalam satu manuskrip.  

Dari 27 karya tersebut, bisa dilihat bahwa Syiah Kuala memiliki pengetahuan agama yang luas. Selain tafsir, ia juga menulis fiqih, di antaranya yang populer adalah Mir’atut Tulab.

“Kitab ini mudah didapatkan. Kalau datang ke perpustakaan Unsyiah, kita akan menemukannya. Itu bidang fikih. Konon kabarnya, fikih perempuan,” jelasnya di Banda Aceh, Senin (2/5). 

Santri Putri Hits

Syiah Kuala juga membahas bidang tasawuf yang lebih khusus ke tarekat Syatariyah. Silsilah tarekanya sambung kepada Rasulullah SAW. “Dia sempat belajar tarekat ke Al-Kanuni. Silsilahnya ketemu terus sampai Nabi Muhammad,” tambahnya.

Muridnya yang terkenal adalah Baba Daud Aceh, Syekh Abdul Muhyi Pamijahan Tasikmalaya, Jawa Barat, dan Syekh Abdullah di Trenggano, Malaysia. 

Kemungkinan besar, tiga murid tersebut belajar kepada Syiah Kuala di dayah yang terletak di Kuala yang kemudian membawa tarekat Syatariyah di wilayhnya masing-masing. “Ada tradisi di Aceh penisbahan seseorang itu ke tempat. Misalnya Syiah di Kuala.” 

Tapi ia menyanyangkan karya-karya Syiah Kuala hanya sedikit yang dikaji di dayah-dayah Aceh sekarang. Ia menduga karyanya menggunakan bahasa Arab yang sulit, berbeda dengan karya Syekh Nawawi AL-Bantani yang relatif mudah. (Abdullah Alawi)

Santri Putri Hits

Dari Nu Online: nu.or.id

Santri Putri Hits Berita, PonPes Santri Putri Hits

Situs dan blog Santri Putri Hits resmi yang menyajikan tulisan dan artikel bersumber dari website Nu Online Resmi, sehingga dapat dipertanggungjawabkan.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Santri Putri Hits sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Santri Putri Hits. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Santri Putri Hits dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock